Senin, 01 Oktober 2012

Pencarian ataukah Penemuan ?


Telah memasuki satu bulan rutinitas harianku dijungkirbalikkan oleh jadwal kerja yang baru. Pagi hari saat semua sibuk menuju tempat mengais rejekinya, aku pulang dengan membayangkan indahnya berada di antara pelukan bantal dan guling. Malam hari, jam delapan malam, belumlah malam, masih sore untuk ukuran kota Jakarta, saat semua sedang melepas penat dan letihnya, aku malah berjalan di antara temaram lampu jalan menuju tempat yang katanya tempat mendulang rejeki. Tengah malam, saat kesunyian mencapai puncaknya, saat semesta hening sesaat, aku masih disibukkan di depan komputer dan kertas-kertas.
Jungkir balik, pagi dan siang jadi malam, malam jadi siang. Sesaat menyenangkan karena keluar dari rutinitas selama bertahun-tahun. Tetapi di antara sesaat  dan hal yang menyenangkan itu ada hal-hal yang tidak menyenangkan. Berangkat di malam hari  adalah bagian yang tidak menyenangkan, walaupun libur 2 harinya sangat sangatlah menyenangkan. Dan aku berbahagia untuk itu.
Jungkir balik, banyak waktu longgar, banyak pikiran yang datang menghampiri. Pikiran yang berpengaruh ke emosional. Entah apakah ini adalah pengaruh dari siklus hormon tiap bulan atau memang pikiran yang hadir karena kesadaran.
Jungkir balik, lebih melihat ke sekitar, banyak menghadirkan pertanyaan; ke atas ke langit, saat malam hanya dihiasi bulan sabit, yang terus bergulir hingga dihiasi bulan yang bersinar penuh. Saat pagi, ketika berjalan melawan arus, melihat wajah Bapak yang duduk di pinggir jalan kelelahan di samping karung berisi botol-botol plastik minuman bekas, apa yang dia pikirkan? melihat wajah Ibu Tua yang tetap tersenyum sambil bekerja menyapu jalanan di antara pohon-pohon tua, apa yang ada dipikirannya? Berpapasan dengan Bapak setengah baya yang berjalan tidak sempurna tergopoh-gopoh seperti sedang dikejar waktu karena takut terlambat. Apa yang sedang diburunya? Apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka cari, mereka kejar, mereka hadapi ? Kenapa aku mempertanyakan ‘mereka’ apakah ini pengganti subject karena takut pertanyaan itu kulontarkan untuk diriku? Apa yang aku pikirkan, apa yang aku cari, aku kejar, aku hadapi? Hanya menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Itukah jawabannya. Atau masihkah mencari jawabannya.
Akh..…bukan mengeluh, hanya kembali menarik napas panjang kemudian menghembuskannya, pencarian kenapa harus terpaku dengan kata itu. Bagaimana kalau menggantinya dengan penemuan? Daripada terus mempertanyakan dengan kata “Apa yang kau cari di hidup ini?” bagaimana kalau diganti dengan kata “Apa yang telah kau temukan di hidup ini?”- Malam sunyi yang dengan setia menyambut pagi, langit malam yang dengan rela dihiasi dengan bulan apakah dia sabit atau purnama, orang tua yang dengan tulus dan ikhlas senantiasa bekerja keras dan berdoa demi kebahagiaan anaknya, Ibu penyapu jalan yang melakukan pekerjaan dengan tetap tersenyum, serta dipertemukan denganmu, darimu aku menemukan rasa cinta, harapan, kesombongan, keangkuhan atas harga diri yang terlalu tinggi untuk mengakui perasaan, rasa perpisahan, kebencian, dendam, memaafkan, melepaskan, mengikhlaskan, dan betapa banyak hal lain yang telah kutemukan. Yang kurasa seluruh hidupku ini, tidaklah akan mampu untuk menampungnya.  Hal yang kecil, yang tiap hari terjadi pada diri dan sekitar kita adalah cahaya, yang akan menuntun kita yang berada dalam kegelapan untuk menuju cahaya.  –efek nonton rayya :D-
Jungkir balik, ternyata mendatangkan penemuan, apakah ini adalah cahaya?Ya, semoga. Tetapi aku belum tahu apa detilnya.

Selasa, 17 Juli 2012

Lelaki Penggenggam Hujan - Review


Muhammad
Lelaki Penggenggam Hujan
Penulis : Tasaro GK
16 Juli 2012, sekitar 22.00
Akhirnya buku setebal 543 halaman ini terselesaikan sudah. Rekor kurasa. Biasanya kalau dihadapkan pada buku dengan jumlah halaman ratusan, sangat sulit untuk menuntaskannya.  Setiap halamannya kubaca tidak loncat-loncat ke halaman selanjutnya. Harus diakui bahwa penulisnya memang hebat dalam merangkai setiap katanya menjadi kalimat-kalimat yang bisa bertutur secara runtut dan merangkai menjadi cerita yang mengalir sehingga pembaca ikut terhanyut mengikutinya.
Saat melihat judulnya, bahwa buku ini merupakan biografi Sang Nabi Muhammad, aku pikir , buku ini akan berat untuk dibaca, tapi ternyata dugaanku salah, buku ini lebih mudah dimengerti dan lebih masuk ke pemahaman mengenai sosok Nabi Muhammad. Harus aku akui dengan membaca buku ini, aku lebih mengenal sosok Nabi Muhammad. Yang terus terang selama ini, aku mengenal hanya melalui  buku pelajaran islam, dan buku bacaan islami lainnya tanpa mengenal pribadinya secara lebih dekat. Atau mungkin penyampaian buku ini saja yang berbeda dari buku-buku lain yang menceritakan sosok Sang Nabi.
Selain  menceritakan perjalanan Nabi Muhammad, buku ini juga mengisahkan perjalanan seorang Persia penganut ajaran Zardust yang untuk memuaskan keingintahuannya akan ramalan datangnya manusia yang akan menjadi pangeran kedamaian, Kashva, orang kepercayaan Khosrou-penguasa Persia,  harus meninggalkan kehidupan nyamannya di Kuil Sistan dan menjalani hari-harinya dalam pengejaran tentara Khosrou dan melakukan perjalanan dari Persia sampai ke Tibet untuk mencari kebenaran mengenai sosok lelaki penggenggam hujan.
Dalam buku ini juga akan diulas mengenai ramalan dalam kitab suci agama Zoroasther, Hindu, Budha dan Kristen, mengenai kedatangan sang nabi Muhammad. Yang dikemukan dengan sangat apik oleh tokoh Kasha dari setiap analisanya dari manuskrip-manuskrip kuno yang dipelajarinya dan dari setiap pertukaran pendapatnya dengan para penganut setiap ajaran.
Setelah membaca buku ini, ada pertanyaan sekaligus rasa malu dengan diri sendiri, karena sudah sejak sekolah dasar dalam pelajaran agama serta ngaji sudah diketahui bahwa Muhammad adalah Utusan Tuhan, Manusia suci yang diagungkan, yang perilakunya menjadi teladan, tapi selanjutnya berbagai pertanyaan itu muncul, apakah  sudah mengenalnya secara dekat, apakah  sudah merasuk ke dalam hati, apakah sudah melakukan pencarian serta perjalanan walaupun bukan seperti perjalanan fisik seberat yang dilakukan oleh tokoh Kashva. Apakah setidaknya sudah mulai melakukan pencarian dan perjalanan ilmu, pengetahuan akal, disertai dengan hati untuk mengenal lebih dekat dengan lelaki penggengam hujan, manusia penggenggam wahyu Tuhan yang  mendamaikan dan menjadi rahmat bagi alam semesta.

NB. Matur suwun ke mbak Shalma atas pinjaman bukunya, ternyata mengena banget :D

Sabtu, 04 Februari 2012

Menulis


Aku hanya ingin menulis, itu saja. Tapi aku tidak tahu apa yang akan aku tuliskan. Menulis mengenai kegiatanku hari ini, kurasa tidak, itu hanya akan menyebarkan sebagian kecil privasi kepada orang lain. Mengenai kegalauan hati, kurasa juga tidak karena kurasa akan semakin ruwet saja kalau dituliskan dan dituangkan menjadi kata-kata. Atau malahan akan semakin bingung kalau membacanya.

Aku hanya ingin menulis saja, yang sederhana, titik. Tidak peduli apa yang dipikirkan orang lain tatkala membacanya. Mengapa harus peduli dengan apa yang dipikirkan dengan orang lain? Karena kurasa diriku sendiripun belum sepenuhnya mengerti tentang sebenarnya diri ini. Jadi lebih baik menyelami diri sendiri dari pada memikirkan pemikiran orang lain terhadap diri ini.

Aku hanya ingin menulis, itu saja. Tulisan yang akan menjadi dokumentasi diri, yang mencerminkan perkembangan pemikiran, perkembangan diri. Tulisan yang mencerminkan sampai dimana diri ini telah berkembang. Perkembangan menuju yang lebih baik atau sebaliknya.

Aku hanya ingin menulis, dimana ketika membacanya suatu saat nanti aku ingin tersenyum. Mengenang kembali saat-saat malam dan saat-saat siang dalam hidup yang telah kulalui. Itu saja. Sederhana. Sesederhana hidup ketika kita mulai memikirkan dan mulai mencari maknanya.

Minggu, 01 Januari 2012

Do'a













ya Tuhan
dengarkanlah permintaan hati
yang teraniaya sunyi
dan berikanlah arti pada hidupku
yang terhempas yang terlepas
pelukanMu, bersamaMu
dan tanpaMu aku hilang selalu

ya Tuhanku
inikah yang Kau mau
benarkah ini jalanMu
hanyalah Engkau yang kutuju
pegang erat tanganku
bimbing langkah kakiku
aku hilang arah
tanpa hadirMu

Tuhanku
dalam gelapnya malam hariku
sedih ini tiada arti
jika Kaulah sandaran hati


diambil dari lirik lagu "Permintaan Hati dan Sandaran hati" oleh Letto